TEATER BOBOT PENTAS AMAL
Angkat naskah “Sebrang Mbalangan” karya Edi Buseng dalam pentas amal peduli bencana Dongala.

         Kudus, Sabtu 16 Februari 2019, sore itu lapangan dan sepanjang jalan menuju aula sekolah tampak ramai antrean siswa SMP 1 Kudus atau bahkan siswa dari luar sekolah SMP 1 Kudus. Ternyata mereka antre untuk menyaksikan pentas produksi teater Bobot. Sejak pukul 15.00 mereka sudah berdiri berjajar. “Biar bisa duduk paling depan, agar jelas dengar dan nontonya,”tutur salah satu penonton. Pintu masuk aula pentas akan dibuka pulul 15.30 tidak membuat mereka surut berdiri untuk antre. Empat petugas dari  tim produksi sudah bersiap di depan pintu masuk, untuk mengatur masukanya para pentonton. Beberapa petugas dokumentasi juga tidak luput mengabadikan antrean itu ke kamera yang dibawanya.

           Pentas produksi ke-13 tahun 2019 kali ini berbeda dan istimewa. Hal ini disebabkan karena pentas produksi kali ini adalah kali pertama selama teater Bobot berdiri. Kedua pentas produksi yang biasa dilakukan teater Bobot untuk FTP (Festival Teater Pelajar) dan perpisahan kelas 9, tetapi kali ini khusus untuk pentas produksi amal. Ketiga, seluruh pelaksanaan ditanggani oleh anak-anak yang mengikuti ekstra teater, mulai dari sutradara, pimpinan produksi, tim publikasi, tim setting panggung, tim lingthing, tim kostum makeup, desain flayer, sampai pendanaan proses produksi dari hasil kas iuran anak-anak yang mengikuti ekstra teater ini. Keempat, hasil penjualan tiket sebagian disumbangkan untuk saudara-saudara kita yang terkena bencana alam, khususnya di Dongala. Tujuan pementasan ini secara internal bagi teater Bobot adalah untuk mencari bibit-bibit baru dalam menyambut FTP tahun depan, melatih tanggung jawab, menyalurkan kreatifitas anak, mengasah kemampuan para aktor, membangun kekompakan dan tim work yang solid, membangun hubungan yang baik dengan para alumni Bobot, bahkan membangun komunitas teater pelajar di Kudus.

Penonton membludak dan terbius melihat pementasan.

           Pentas dua kali. Itulah yang dilakukan untuk mengantisipasi membludaknya penonton. Pentas pertama pukul 15.00 WIB dan kedua pukul 19.00 WIB. Tiket yang disediakan hanya 300 lembar ternyata sudah terjual habis 2 hari sebelum pentas. Ternyata benar, tidak sedikit calon penonton yang ingin menonton pukul 15.00 WIB, harus pulang  dan kembali lagi pukul 19.00 WIB untuk menyaksikan pentas kedua. Pentas pertama dibanjiri oleh siswa SMP 1 Kudus sendiri dan dari komunitas teater pelajar dari Kudus, seperti teater NSA (Negeri Satu Atap) SMP 3 Satap Gebog, teater Essaka dari SMP 1 Kaliwunggu, teater Espero dari SMP 2 Kudus, teater Saka dari SMK 2 Kudus, teater Studio One dari SMA 1 Kudus, teater Ganesha dari SMA 2 Kudus, teater Apotek dari SMK Duta Karya. Beberapa guru, komunitas teater umum, dan bahkan orang tua dari anak –anak teater Bobot hadir memenuhi ruang aula sore dan malam itu.  Gelak tawa sesekali terdengar di tengah-tengah pementasan, alur yang membuat para penonton tidak berajak dari pementasan hingga usai. Emosi penonton benar-benar dimainkan oleh para aktor di panggung itu. Penontonpun tak segan-segan mengabadikan adegan per adegan di gawai yang mereka bawa.

          “Sebrang Mbalang” karya penulis lokal Kudus yaitu Edi Purnama Buseng itulah yang digarap. Naskah ini memiliki daya tarik tersendiri, sebab sangat dekat dengan lingkungan kita dan memuat banyak pesan yang bisa diambil. Konflik yang dihadirkanpun sudah tak asing lagi di  kalangan kita, mulai dari konflik keluarga, isu masyarakat khusunya tentang gusuran, sejarah Kudus, serta bumbu percintaan juga hadir di naskah ini. Tentu saja naskah ini dihadirkan secara fiktif dan rekaan saja, jadi tidak ada niat untuk menjatuhkan atau menyudutkan pihak siapapun.

Sang penulis naskah “Sebrang Mbalangan” Edi Purnama Buseng hadir di tengah pentas. Kang Buseng (nama panggung) sempat memberikan pujian dan masukan kepada teater Bobot atas pementasan malam itu. Kang Buseng merasa puas melihat aktor-aktor bermain lepas dan sesuai dengan roh naskah yang Kang Buseng harapan. Walaupun ada beberapa aktor yang lepas temponya. Serta Kang Buseng merasa bangga terhadap anak-anak Bobot yang mampu menaklukan naskah ini. “Dari melihat tiga pementasan naskah ini, pementasan teater Bobot cukup berhasil menaklukkan. Selamat dan sukses untuk Bobot. Kalian luar biasa!” puji Edi Purnama Buseng. Seketika riuh tepuk tanggan para pemain dan kru Bobot mendengar pujian tersebut.

          Tim produksi kali ini melibatkan sekita 34 siswa dan tiga pembina teater yaitu Noor Hidayati, S.Pd., Sugiarto, S.Pd., dan Eko Purnomo, M.Pd. Para pemain yaitu Alia Retna D(7E) sebagai Yu Jiem, Muhammad Aqil F (8B) sebagai Kang Supri, Marelia Adetista (8H) sebagai Diyah, Ghiyas Syah Alam (7G) sebagai Sarip, Chabibi (8A) sebagai Dhe Kasmin, Raditya Febrian A (8F) sebagai Mursyid, Elim Syavira (8G) sebagai Surti, Rafif Maula Achsan (8B) sebagai Karno Finance,  Eyga (9B) sebagai polisi, Dea Alya F (8F) sebagai preman 1, Ahmad Naufal Muzzaki (8F) sebagai preman 2, dan Petrus Lintang (9A) sebagai preman 3. Disutradari oleh Dea Alya, Pimpinan Produksi Ahmad Muzzaki, dan kru seluruh Boboters. Proses produksi yang cukup menguras energi, dan emosi, sebab ditengah-tengah kegiatan belajar mengajar, dan kegiatan sekolah yang super padat anak-anak tetap semangat menjalani proses ini. Konflik antartemanpun muncul menjadi bumbu proses perjalan produksi ini kali ini. Tetapi semua dapat dilalui dan dipecahkan.

Sekali lagi selamat untuk Teater Bobot, terus berkarya dan berproses. Bobot....Jaya! Berteater itu KEREN!! Salam Budaya

 

(copyright@mr.gix-2-19)




Artikel Terkait

Facebook Comment